PENDIDIKAN PRO PASAR

Pendidikan harus murah, itu harga mati, bahkan gratis lebih bagus. Bila investornya negara, maka benefitnya akan kembali ke negara, akan Kembali ke rakyat khususnya dalam usia wajib belajar, syukur – syukur continues learning bagi seluruh warga negara, entah kaya atau miskin , entah bertubuh lengkap atau berkebutuhan khsusus, semua akses pendidikan adalaf free. Revolusi pendidikan harus bergeser dari ceramah tatap muka menjadi merdeka belajar ala mas mentri Nadiem Makarim, belajar bisa dilakukan secara online, belajar bisa diselenggarakan di rumah, di café, di tempat ibadah, di balai RW hingga di lapangan sepak bola. Ekostistem yang mendukung pendidikan harus diaktivasi, aktivasi peran pelaku usaha, aktivasi peran regulator, aktivasi peran pengendali infrastruktur, aktivasi peran media , aktivasi perusahaan penerbit, aktivasi peran ketahan pangan dan gizi, aktivasi peran lembaga keuangan, aktivasi peran pusat data, pokoknya semua potensi yang kita punya harus terus di aktivasi sampai benar-benar berkobar semangat merdeka balajar.

Bila saja keterlibatan semua profesi siap berkontribusi dalam proses belajar mengajar, bisa kita rasakan dampaknya sangat sistemik, misalkan setiap dokter, insinyur, pengacara, birokrat, penerbang, olahragawan, pemuka agama  siap sedekah ilmu dua jam saja untuk mengajar,  selesai sudah ketersediaan tenaga pengajar. Satu demi satu komponen proses belajar mengajar akan saling menguatkan dan menjadikan pondasi untuk ikut bersama berjuang dalam mencerdasakan kehidupan bangsa.

Dari rangkaian proses yang baik diharapkan menjadikan output dan outcome yang baik, luaran dari hasil proses pendidikan haruslah terkait dengan kehidupan nyata sehari-hari. Hidup ini harus belajar bekerja , nah apakah di sekolah kita sudah belajar bekerja. Hidup ini harus bersikap santun, nah apakah di sekolah sudah belajar sopan santun, artinya ada kesesuaian dan keterkaitan atau sering di sebut link and match.

Misalnya kita ambil contoh pendidikan vokasi atau sarjana terapan, dengan program studi bisnis digital, bila hal ini di terapkan dengan mengusung semangat merdeka belajar nya mas mentri, maka bisa jadi dosen nya tidak harus S2 tapi pelaku usaha yang kompeten, materi kuliahnya bersumber dari perilaku konsumen di era digital, tugasnya bukan tumpukan makalah, tapi membangun landing page yang mempunyai traction tinggi, co working space dengan desain ruangan yang cozy gaya melineal, gaya generasi Z akan menjadi tongkrongan mahasiswa dalam belajar dan mengerjakan tugas kuliah, jadwal mengajar bisa fleksibel sesuai dengan voting pada mobile application , tidak masuk kuliah silahkah saja yang penting tugas project bisa selesai tepat waktu dan bahkan bisa di monetisasi, ingin meambah ilmu bidang psikology team work dipersilahkan mengambil mata kuliah jurusan psikologi cukup 1 semester saja, ingin mencari jejaring atau research partner di luar kampus dipersilahkan magang di perusahaan dalam dan luar negeri dengan kredit belajar tetap aman diakui kampus, saat di wisuda tidak lagi mendapatkan predikat cumlaode tapi menduduki posisi C-Level (CEO, CTO, CFO, CMO, COO, CIO dll) dari StartUP yang dibangun nya melalui mekanisme inkubasi kampus, wisuda menjadi moment ajang pitching dengan berbagai Venture Capital yang siap ber-investasi, hingga mahasiswa yang tengah mengalami kesulitan keuangan pun dipersilahkan bisa bekerja full time sambil tetap belajar secera online, pokoknya merdeka banget.

Ini sebuah perjoangan yang cerdas, semua ekosistem pendukung harus benar-benar di aktifasi bila perlu di provokasi secara radikal, semuanya itu demi mengobarkan semangat dalam mendobrak tembok-tembok pembatas dalam meraih hak belajar semua anak bangsa. Semoga harapan kita semua menjadi cerdas di negeri sendiri akan terwujud, tindakan efisiensi bisa di lakukan secara massive , tidak perlu bangun gedung sekolah yang mewah, tidak perlu sekolah ke luar negeri kalau ilmunya sama bisa di akses seara online, semua bergotong-royong dalam membangun ekosistem pendidikan nasional, kalau sudah begitu sudah saatnya kita “menyerang” negara lain untuk berpacu dalam Human Development Index.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *